Kamis, 05 Agustus 2010

Karya tulis ilmiah

Akhir-akhir ini tuntutan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah sangat terasa sekali. Tidak. hanya dikalangan ilmuan dan sivitas akademika pada suatu perguruan tinggi saja, dikalangan, siswa SMTA pun tuntutan tersebut, sudah lama terasa. Sebagai contoh akan pentingnya kemampuan menulis karya ilmiah bagi siswa SMTA tersebut adalah kewajiban membuat paper. Tahun-tahun 1980-an kepada siswa SMTA yang akan mengikuti EBTA/EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir/Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) diwajibkan membuat sebuah karya tulis ilmiah dalam bentuk makalah. Siswa yang tidak dapat menyelesaikan karya tulis ilmiahnya sampai batas waktu yang telah ditetapkan tidak diperkenankan mengikuti EBTA/EBTANAS. Dengan kata lain, bagi siswa SMTA menulis karya ilmiah merupakan syarat mutlak untuk mengikuti EBTA/EBTANAS. Merupakan Suatu keharusan yang tidak dapat di tawar-tawar.
Di kalangan mahasiswa dan ilmuan tuntutan kemampuan menulis karya ilmiah jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan tuntutan yang berlaku terhadap siswa SMTA. Kalau kepada siswa SMTA tuntutan itu hanya berlaku bagi siswa yang telah duduk di kelas tiga atau yang akan mengikuti EBTA/ EBTANAS saja, maka bagi kalangan mahasiswa tuntutan tersebut berlaku untuk setiap bidang studi yang diikutinya. Bila dalam satu semester mahasiswa mengambil lima (5) mata kuliah, setidaknya mereka harus membuat lima makalah dalam jangka waktu enam bulan. Sekiranya mahasiswa yang bersangkutan mampu menyelesaikan studinya dalam kurun waktu empat tahun (delapan semester), berarti mereka harus mampu menyelesaikan 40 makalah. Bagi mahasiswa yang mengambil jalur skripsi, selain makalah yang 40 buah tersebut mereka juga membuat sebuah skripsi. Tentunya karya tulis yang sebanyak itu amat membanggakan.
Sehubungan dengan kedua persyaratan di atas, kaitan yang lebih erat adalah antara kalangan ilmuan dengan karya tulis ilmiah. Para ilmuan tidak dapat dilepaskan, dari menulis karya ilmiah. Kenyataan ini disebabkan karena menulis karya ilmiah merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan dan hasil penelitian ilmuan tersebut. Seorang ilmuan yang tidak mampu-menyampaikan gagasan dan hasil pemikiran mereka secara tertulis, gagasan itu cenderung tidak bertahan lama. Gagasan tersebut akan hilang di makan ruang dan waktu. Secara tersirat, bobot keilmiahan seorang ilmuan diantaranya ditentukan oleh bobot tulisan ilmiahnya. Itulah sebabnya kemampuan menulis karya ilmiah itu penting artinya bagi seorang ilmuan.
Terlepas dari kualitas suatu karya ilmiah, adanya kesadaran akan pentingnya kemampuan menulis karya ilmiah adalah suatu hal yang menggembirakan. Dari segi kualitas, memang sering terdengar pernyataan yang kurang menyenangkan, yaitu kemampuan menulis karya ilmiah siswa/mahasiswa masih rendah. Dengan latihan yang teratur dan sistematis serta lebih mendalami teori, tentunya isyu yang tidak menyenangkan ini dapat dikurangi, bila perlu dihilangkan.
1.1 Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Setiap tahun karya tulis ilmiah selalu dihasilkan siswa kelas III SMTA. Setiap semester mahasiswa selalu menulis karya ilmiah. Sejalan dengan itu, hampir setiap saat karya tulis ilmiah dihasilkan oleh para ilmuan. Begitu berartikah karya tulis ilmiah itu? Kalau memang berarti, apakah yang dimaksud dengan karya tulis ilmiah itu? Secara etimalogi, karya tulis ilmiah terdiri dari kata majemuk karya tulis dan ilmiah. yang dimaksudkan dengan karya tulis adalah hasil dari suatu kegiatan menulis. Hasil karya tulis ini dapat berupa makalah, cerpen, skripsi, puisi, tesis, novel, dan lain-lain. Yang dimaksud dengan ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan. Ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui metode-metode ilmiah. Dari kedua kata di atas, dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang disusun secara sistematis menurut kaedah-kaedah tertentu berdasarkan hasil berpikir ilmiah dan metode ilmiah.
Berdasarkan pengertian di atas, yang dapat dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah adalah makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian. Hal ini disebabkan karena karya tulis tersebut dikembangkan dengan menggunakan metode ilmiah. Makalah merupakan karya tulis ilmiah yang ditulis untuk memenuhi tugas-tugas perkuliahan atau untuk seminar. Penelitian ilmiah merupakan karya tulis yang lebih ditujukan untuk mengembangkan ilmu atau menguji kebenaran ilmu (teori). Skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian merupakan karya tulis sebagai hasil dari suatu penelitian. Skripsi, tesis, dan disertasi ditulis pada akhir paragraf, suatu studi untuk mendapatkan gelar tertentu. Skripsi ditulis untuk memperoleh gelar kesarjanaan oleh mahasiswa setingkat S.I. Tesis ditulis untuk meraih gelar magister (master) oleh mahasiswa setingkat S.2. Dan disertasi ditulis untuk gelar doktor oleh mahasiswa setingkat S.3.
Penulis karya ilmiah adalah orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan (ilmuan). Sekurang-kurangnya, ia memiliki pengetahuan dalam bidang yang ditulisnya. Oleh karena penulis karya ilmiah adalah seorang ilmuan, kepadanya dituntut untuk memiliki sifat terbuka, jujur, kritis, teliti, tidak mudah percaya sebelum ada pembuktian, tidak cepat putus asa, dan tidak cepat merasa puas dengan pekerjaan atau hasil karyanya. Sifat-sifat di atas oleh Nana Sujana (1984: 4) disebut dengan sikap ilmiah. Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah kesediaan menerima umpan balik dari orang lain, baik dalam bentuk yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Tidak selamanya karya tulis seorang ilmuan diterima oleh pembaca. Pemahaman yang pro dan kontra selalu mengiringi karya itu. Apapun pendapat pembaca terhadap karya tulis itu penulis harus menerimanya. Berdasarkan masukan tersebut, dengan kritis penulis mencoba menganalisisnya, Masukan ini sangat besar artinya untuk menyempurnakan karya tulis yang ada, atau karya tulis yang akan muncul. Secara tersirat keterbukaan ini memperlihatkan sikap penulis yang demokratis dan tidal, picik.

Seorang penulis karya ilmiah harus jujur. Ia harus mampu mengemukakan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak merekayasa data sesuai dengan "pesanan". Sekiranya ia mengutip pendapat orang lain, ia harus mengakui bahwa itu bukan pendapatnya. Karena itu ia mesti membuatkan notasi ilmiahnya. Sekiranya notasi ilmiah ini tidak dibuatkan, maka penulis tersebut tidak lebih dari seorang plagiator. Seorang penulis karya ilmiah juga diharuskan memiliki sifat kritis dan teliti. Ia harus mampu menganalisis segala sesuatunya secermat mungkin, sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Analisis yang kritis itu harus dilakukan secara hati-hati dan teliti. Dalam bidang ilmu pengetahuan alam atau bidang-bidang keilmuan yang bersifat eksak tuntutan terhadap kekritisan dan ketelitian sangat tinggi, Kekurang tajaman analisis dan kekurang telitian dalam bekerja dapat mendatangkan akibat yang sangat fatal. Sampai sekarang kita masih ingat peristiwa Chernobel, suatu peristiwa kekurangtelitian dan kekurang hati-hatian yang mengakibatkan kematian.
Ilmu dimulai dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari keragu-raguan menjadi yakin. Filsafat keilmuan adalah filsafat epistemologi, yaitu selalu mencari tahu, selalu berusaha menjawab pertanyaan "apa" dan "bagaimana". Seorang ilmuan harus memiliki sifat keingintahuan yang besar. la tidak mudah percaya begitu saja dengan apa yang di dengar, di lihat, atau dibacanya. Setiap informasi yang diperolehnya tidak diterimanya begitu saja. Sebelum diterima, informasi itu harus dibuktikan kebenarannya. Pembuktian kebenaran ini dapat dilakukan secara rasional didasarkan kepada teori-teori. Dengan kata lain, seorang ilmuan baru dapat menerima suatu informasi itu benar secara teori dam diterima oleh akal. Pembuktian secara empiris. didasarkan kepada fakta-fakta yang dapat diamati. Sekiranya informasi itu sesuai dengan fakta yang ada barulah informasi itu dapat diterima.
Cepat putus asa dam lari dari masalah yang sedang dihadapi bukanlah suatu sikap yang terpuji. Tidak hanya dalam bidang keilmuan, dalam kehidupan sehari-hari pun sikap ini tidak berterima bagi siapapun. Seorang ilmuan yang cepat putus asa akan selalu melahirkan karya yang asal jadi. Pembahasannya tidaklah tuntas. Untuk karya tulis ilmiah ketidaktuntasan pembahasan masalah tidaklah dapat diterima. Ketidaktuntasan tidak terselesaikan permasalahan, malahan sebaliknya, yaitu sering mendatangkan masalah baru. Karya yang lahir akibat putus asa adalah karya yang dipaksakan "kelahirannya". Biasanya karya seperti ini sering menimbulkan pemahaman dam penafsiran yang berbeda. Pada hal keberagaman pemahaman ini tidak boleh terjadi dalam memahami karya tulis ilmiah.
Seorang ilmuan yang cepat puas, karya yang telah dihasilkannya cenderung tidak mampu menghasilkan karya lanjutan (lain) yang lebih berbobot. Rasa cepat puas dalam bidang keilmuan tidaklah baik, Rasa ini sering membawa keterlenaan, mengendurkan kearifan, dam memperlemah daya kritis. Seorang ilmuan tidaklah dilarang menikmati karya tulis yang telah dihasilkannya. Yang tidak boleh adalah puas dengan apa yang ada, tidak pernah skeptis terhadap apa yang ada tersebut. Pada hal. karya tulis yang telah dihasilkan tersebut mungkir, masih memiliki kekurangan-kekurangan. Itulah sebabnya seorang ilmuan harus punya sifat kritis analitis. Bukan cepat puas atau terlena.
Melalui berbagai sikap ilmiah di atas, kemampuan menulis karya ilmiah dapat lebih ditingkatkan. Pada hematnya jenis. karya ilmiah seperti yang telah dijelaskan di atas adalah sama sebab sama-sama menggunakan metode ilmiah. Yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya adalah dalam hal kadar keilmiahannya, bobot masalah yang dibahas, dan penggunaan metodologi. Jumlah halaman, kertas yang digunakan, dan kerapian penjilidan belum dapat dijadikan sebagai tolak ukur ilmiah tidaknya sebuah karya tulis.

1.2 Berpikir dan Metode Ilmiah
Di atas telah dijelaskan bahwa metode yang digunakan dalam menulis karya ilmiah adalah metode ilmiah. Menurut Yuyun S. Suriasumantri (1985; 119) metode ilmiah merupakan suatu prosedur untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Merujuk kepada pendapat Peter R. Senn lebih lanjut Suriasumantri mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan metode merupakan suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang teratur dan sistematis. Dalam hal ini dapat juga ditambahkan dengan kritis dan analitis.
Landasan dari metode ilmiah adalah kemampuan berpikir ilmiah, sedangkan dasar dari berpikir ilmiah adalah kemampuan otak dalam memecahkan dan menganalisis suatu masalah. Berpikir ilmiah tidak sama dengan berpikir biasa. Walaupun kegiatan berpikir apapun sama-sama merupakan kegiatan mental, namun dalam berpikir ilmiah kegiatan mental itu berlangsung secara sistematis dan berdasarkan aturan-aturan tertentu dalam rangka mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak semua kegiatan berpikir menghasilkan pengetahuan. Hampir setiap hari manusia melakukan kegiatan berpikir, tetapi ilmu pengetahuan tidak setiap hari dihasilkan oleh orang yang berpikir tersebut. Kenyataan ini menginformasikan bahwa kegiatan berpikir ilmiah berorientasi kepada, ilmu pengetahuan, sedangkan berpikir yang lainnya tidak berorientasi kepada ilmu pengetahuan.
Kegiatan berpikir ilmiah dimulai dari suatu masalah. Kemampuan mereaksi terhadap masalah inilah, yang menentukan ilmiah tidaknya kegiatan berpikir yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak masalah keilmuan yang dapat diamati dan dicarikan pemecahannya. Akan tetapi sangat banyak masalah tersebut yang tidak terselesaikan, sebab tidak setiap manusia mempunyai kemampuan menyelesaikannya secara ilmiah. Dengan kata lain, tidak setiap manusia mempunyai kemampuan berpikir ilmiah, Sangat banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir ilmiah. Selain dari masalah genetika (keturunan) dalam bentuk IQ, bakat dan motivasi yang besar, kemampuan reseptif yang baik, dan latihan menganalisis masalah. Sikap kritis pun dapat meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah.
Berpikir ilmiah tidak dapat dilepaskan dari berpikir deduktif dan induktif. berpikir ilmiah dibangun oleh kedua unsur berpikir tersebut. Berpikir deduktif sering juga disebut dengan berpikir rasional. Dalam berpikir deduktif kesimpulan dari suatu permasalahan ditarik dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang bergerak dari pernyataan umum ke pernyataan khusus. Contoh klasik yang sering dikemukakan adalah tentang pemuaian dan zat padat (logam). Bila dalam pernyataan umum dikemukakan bahwa setiap zat padat logam bila dipanaskan akan memuai. Dalam kenyataan benda-benda seperti besi, seng, emas, perak, dan kuningan termasuk benda padat jenis logam, maka dalam pernyataan khusus (kesimpulan) dapat dikatakan bahwa besi, seng, emas, perak, dan kuningan akan memuai bila dipanaskan.
Berpikir induktif merupakan kebalikan dari berpikir deduktif. Berpikir induktif ini sering juga disebut dengan berpikir empiris. Dalam hal ini, keterandaian data dan fakta secara kuantitatif dan kualitatif sangat besar peranannya untuk menarik kesimpulan. Berpikir induktif merupakan kebalikan dari berpikir deduktif. Kesimpulan yang diperoleh dari berpikir induktif adalah kesimpulan yang ditarik dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang bergerak dari pernyataan sebagai contoh dapat dikemukakan kebalikan contoh di atas. Kalau dalam pernyataan khusus dikemukakan bahwa besi, seng, emas, perak, dan kuningan akan memuai bila dipanaskan. Besi, seng, emas, perak, dan kuningan adalah zat padat jenis logam, maka dalam pernyataan umum (kesimpulan) dapat dikemukakan bahwa setiap zat padat logam akan memuai jika dipanaskan. Di atas telah dijelaskan bahwa kegiatan ilmiah dimulai dari masalah dan mengamati masalah. Kegiatan tersebut tidaklah terhenti sampai disitu saja, melainkan ada tahap-tahap selanjutnya yang harus dilalui, seperti perumusan masalah/hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data, dan menarik kesimpulan. Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (1988 ; 5) mengemukakan bahwa proses berpikir ilmiah selalu menempuh langkah-langkah tertentu yang disangga oleh tiga unsur pokok, yaitu (1) pengajuan masalah, (2) perumusan hipotesis, dan (3) verifikasi data. SIP Selanjutnya dijelaskan, cara berpikir atau proses berpikir yang terstruktur seperti inilah yang menjadi landasan metode ilmiah. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa metode i1miah tersebut adalah metode logika-hipotiko verivikatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan logika adalah pengetahuan tentang kaedah berpikir, atau jalan pikiran yang masuk akal. Sesuatu yang masuk akal adalah sesuatu yang logis. Logika mengandalkan kemampuan berpikir, baik kemampuan berpikir induktif maupun kemampuan berpikir deduktif atau gabungan dari kedua bentuk berpikir tersebut. Sebagai suatu kegiatan keilmuan, dasar metode ilmiah ini adalah kemampuan berpikir, yaitu berpikir ilmiah, Melalui serangkaian proses berpikir ilmiah seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil kegiatan berpikir ini dapat diterima dan dibuktikan keberandaannya. Apakah pembuktian itu secara rasio, dalam arti melalui telaahan berdasarkan teori-teori terkait, ataupun pembuktian secara. empiris, yaitu dengan memperlihatkan dan fakta. Prosedur selanjutnya dari metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Jawaban sementara inilah yang hendak dibuktikan kebenaran atau ketidakbenarannya. Fungsi hipotesis adalah untuk mengarahkan pelaksanaan penelitian. Hipotesis merupakan sentral dari suatu penelitian. Segala keylatan yang dilakukan harus mengacu kepada pembuktian hipotesis. Dalam sebuah penelitian bisa saja tidak hipotesis yang diajukan, melainkan pertanyaan penelitian. Terhadap hal yang seperti ini tidaklah; ada salahnya. Fungsi pertanyaan penelitian tidaklah jauh bedanya dengar, fungsi hipotesis- penelitian; Kedua-duanya sama-sama berfungsi untuk mengarahkan penelitian. Kalau hipotesis merupakan suatu hal yang ingin dibuktikan kebenarannya, maka pertanyaan penelitian adalah sesuatu yang perlu dicari jawabannya. Penyelesaian dari keduanya adalah dengan mengadakan penelitian.
Akhir dari metode ilmiah adalah verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan sebagai kegiatan mengumpulkan data, menganalisis data, membahas hasil analisis data, dan menarik kesimpulan dalam bentuk pembuktian hipotesis atau jawaban pertanyaan penelitian. Kegiatan verifikasi data dapat dikatakan sebagai kegiatan inti dari suatu penelitian. Pelaksanaan kegiatan penelitian terdapat pada tahap verifikasi data ini. Pada tahap inilah temuan dari suatu penelitian diperoleh. Kalau pada, dua tahap sebelumnya penekanan kegiatan hanya pada mendudukkan permasalahan, maka. pada tahap verifikasi data realisasi dari segala perencanaan itu diterapkan. Rumusan masalah dan hipotesis atau pertanyaan-penelitian tidaklah ada artinya bila tidak dilanjutkan dengan kegiatan verifikasi data. Rumusan masalah dan hipotesis hanyalah angan-angan semata, bila tidak diikuti oleh kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, dan pengujian hipotesis serta penarikan kesimpulan. Itulah sebabnya kegiatan verifikasi data merupakan init kegiatan dari suatu penelitian. Berdasarkan hasil penelitian (baik lapangan maupun kepustakaan) inilah disusun sebuah karya tulis, yaitu karya tulis ilmiah.
1.3 Jenis-Jenis Karya Tulis Ilmiah
Telah dijelaskan bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang dihasilkan dengan menggunakan metode ilmiah yang pelaksanaannya dilakukan secara sistematis, kritis dan teliti. Melalui prosedur kerja yang seperti inilah muncul karya tulis ilmiah. Secara umum orang cenderung beranggapan bahwa karya tulis ilmiah ini terdiri dari makalah dan laporan penelitian. Anggapan ini tidaklah ada salahnya, akan tetapi juga tidak ada salahnya untuk membagi anggapan tersebut atas pembagian berikut.
Makalah merupakan suatu karya tulis ilmiah yang membahas suatu permasalahan. Biasanya penulisan dimaksudkan untuk dibicarakan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar, konfrensi, musyawarah dan lain-lain) atau dalam upaya memperbaiki/meningkatkan suatu program tertentu.
Bagi kalangan mahasiswa, makalah ini dimaksudkan untuk melengkapi tugas-tugas (akhir) yang diberikan oleh dosen atau sebagai tugas akhir pengganti skripsi (bagi mahasiswa yang mengambil jalur makalah). Berdasarkan sasaran akhir dari penulisan makalah ini, maka jenis makalah dapat dibedakan atas tiga, yaitu;
1. Makalah sebagai pelengkap tugas-tugas perkuliahan mata kuliah tertentu, makalah tugas,
2. Makalah sebagai pelengkap tugas akhir untuk menyelesaikan suatu program studi, sebagai pengganti skripsi, dan
3. Makalah sebagai wadah untuk suatu pembicaraan dalam pertemuan ilmiah, makalah seminar.
Dalam menulis makalah, tidak seluruh metode ilmiah dipergunakan. Namun hal ini bukan berarti bahwa keilmiahan sebuah makalah akan hilang. Pada satu sisi, ada makalah yang disusun hanya berdasarkan pada pola berpikir rasional, yaitu dengan mengandalkan kajian teoritis. Pada sisi yang lain, ada makalah yang pembahasannya hanya didasarkan pada data empiris yaitu berupa pemaparan dan pendeskripsian temuan-temuan di lapangan. Berdasarkan kenyataan-ini, maka kerangka berpikir penciptaan makalah dapat dilakukan secara, deduktif atau induktif. Pembahasan sebuah permasalahan dalam bentuk makalah biasanya diuraikan dalam tiga bagian pokok, Yaitu : (1) pendahuluan atau pengajuan masalah, (2) pembahasan atau pemecahan masalah, dan (3). penutup atau kesimpulan. Melalui ketiga bagian pokok inilah segala permasalahan diuraikan sehingga menjadi sebuah makalah.
Bagaimanakah halnya dengan artikel? Pada hematnya antara makalah dengan artikel terdapat kesamaan. Hal ini disebabkan karena proses penyusunan kedua jenis tulisan tersebut menggunakan kerangka, berpikir yang sama, yaitu pola berpikir deduktif atau induktif. Kalaupun terdapat perbedaan, maka perbedaan itu cenderung terletak pada pola penyampaian dan tujuan penulisan. Artikel merupakan jenis karya tulis, ilmiah yang dimaksudkan untuk dipublikasikan melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid). Akibat sasaran/tujuannya adalah publikasi, maka, pola penyampaiannya banyak sedikitnya telah mempertimbangkan calon pembaca. Dengan demikian kemurnian keilmiahan terhadap pembahasan masalah tentu terpengaruh. Bahasa yang digunakan telah direkayasa sedemikian rupa. Artinya kata-kata atau kalimat yang dipakai disusun dengan mempertimbangkan calon pembaca. mungkin inilah sebabnya artikel ini sering juga disebut dengan tulisan semi ilmiah atau tulisan kreatif. Dalam pembicaraan selanjutnya artikel ini tidak akan dibicarakan.
Berbeda dari makalah, laporan penelitian (skripsi, tesis, dan disertasi) disusun dengan menggunakan kerangka berpikir yang komplek. Landasan berpikir dari skripsi, tesis, dan disertasi tidak hanya pada satu pola berpikir (deduktif atau induktif), akan tetapi didasarkan kepada kedua pola berpikir tersebut. Gabungan kedua pola pikir off ilmiah inilah yang melahirkan metode ilmiah yaitu logika, hipotesiko, dan verivikatif. Dengan kata lain, skripsi, two tesis, dan disertasi selalu melalui tahapan pengajuan masalah, kajian teori, hipotesis/pertanyaan, verifikasi data, dan kesimpulan. Akibat adanya perbedaan ini, maka proses menghasilkan makalah jauh lebih mudah dari pada proses menghasilkan skripsi, tesis, atau disertasi. Akan tetapi, hasil dari penulisan skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian jauh lebih bermakna, setidak tidaknya dalam dunia akademik, yaitu dalam rangka meraih gelar sarjana, master (magister), atau doktor. Prosedur menghasilkan sebuah laporan penelitian (skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian) memang tidak mudah. Banyak proses dan tahapan yang harus dilalui. Pada umumnya tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut. (Secara terinci, langkah-langkah penulisan karya tulis ilmiah akan dibicarakan pada Bab II).
Berdasarkan garis besar tahapan di atas, seolah-olah antara skripsi, tesis dan disertasi adalah sama. Apakah memang demikian halnya ? Sebenarnya antara skripsi, tesis dan disertasi tidaklah sama. Ketidaksamaan tersebut pada hakikatnya terletak pada tingkatannya (perbedaan gradual). Lebih lanjut Sudjana (1988 : 96) mengemukakan kemungkinan perbedaan tersebut terletak pada hal-hal berikut :
Kemungkinan Perbedaan Skripsi – Tesis – Disertasi
Aspek/Unsur Skripsi (S1) Tesis (S2) Disertasi (S3)
1. Permasalahan



2. Variabel


3. Tujuan







4. Metodologi Penelitian


5. Analisis Data



6. Skala Pengukuran Masalah dapat diangkat dari pengalaman empirik, sifatnya tidak terlalu spesifik/mendalam/analitik asal cukup jelas dan terbatas

Bias satu variable, atau hubungan dua variable bevariabel

Mendeskripsikan variable dan atau hubungan dua variable






Histories atau deskriptif, studi korelasi


Statistika deskriptif dan atau estetika analitik sederhana non parametric


Ordinal, nominal dan atau interval Diangkat dari pengalaman empirik atau dari berpikir teoritik, sifat mengarah kepada yang spesifik teoritik

Minimal hubungan dua variable multi variat

Mendeskripsikan dan mengkaji secara analitik hubungan / pengaruh variable





Expost facto, quasi experiment (semi eksperimen)

Statistika deskriptif dan statistik non paramerik dan atau non paramerik

Minimal, nominal dan interval
Diangkat dari kajian teoritik yang didukung oleh fakta empirik sifat lebih speifik/mendalam (analitik)

Dua variable multivariate atau tiga variable

Menguji atau menemukan hubungan antar variable dan pengaruh variable satu terhadap variable lain


Eksperimen minimal semi eksperimen


Statistika deskriptif dan statistika analitik/inferensial statistika paramerik

Interval rasio kecuali untuk penelitian kualitatif

Selain dari perbedaan di atas, dari segi manfaat juga terdapat perbedaan, yaitu skripsi di buat untuk memperoleh gelar kesarjanaan, tesis untuk meraih gelar magister atau master, dan disertasi untuk meraih gelar doctor.
Pada uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa antara makalah dengan skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian terdapat perbedaan, terutama dalam hal kerangka berpikir. Perbedaan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk diagram berikut. (Sudjana, 1988 : 18)

PERBEDAAN KERANGKA BERPIKIR ANTARA
MAKALAH DENGAN SKRIPSI, TESIS DAN DESERTASI
Sekalipun terdapat perbedaan antara makalah dengan skripsi, tesis, desertasi, dan laporan penelitian, kelima jenis tulisan tetap karya tulis ilmiah. Hal ini disebabkan karena kelima jenis tulisan itu memiliki pola yang sama. Kesamaan itu setidak-tidaknya adalah dalam hal (1) adanya pengajuan masalah, (2) adanya kaitan teori sebagai landasan dalam pembahasan, (3) adanya kesimpulan sebagai hasil dari pembahasan
1.4 Karya Tulis Ilmiah Dan Non Ilmiah
uraian-uraian pada bab terdahulu telah menjelaskan perihal karya tulis ilmiah. Kenyataan memperlihatkan ada tulisan ilmiah, tentu ada pula karya tulis yang tidak ilmiah. Kenyataan memperlihatkan bahwa memang ada karya tulis yang bukan merupakan karya tulis ilmiah. Dengan kata lain, ada karya tulis yang ditulis dengan tidak menggunakan kerangka berpikir ilmiah dari metode ilmiah. Karya-karya tulis yang seperti ini sering disebut dengan karya fiksi atau karya tulis dalam bentuk cerita.
Antara karya tulis ilmiah dengan karya yang non ilmiah ini banyak terdapat perbedaan. Pada hakekatnya perbedaan itu dapat ditinjau dari beberapa titik pengamatan. Untuk jelasnya perhatikanlah table berikut,
Table 1. Perbedaan Antara Karya Tulis Ilmiah Dengan Non Ilmiah
No Titik pengenalan Karya tulis ilmiah Karya tulis non ilmiah
(1) (2) (3) (4)


1. Akhir-akhir ini tuntutan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah semakin dirasakan. Tidak saja dikalangan kaum akademik, dan intelektual, kebutuhan kemampuan inipun disadari oleh kalangan lain.
2. secara tegas karya ilmiah dapat dibedakan atas makalah, skripsi, tesis, desertasi dan laporan penelitian
3. seorang penulis karya ilmiah haruslah memiliki sikap ilmiah, yaitu terbuka, jujur, kritis, teliti, tidak Mudah percaya sebelum ada pembuktian, tidak cepat putus asa, dan tidak cepat puas sebelum pekerjaannya selesai.
4. Kerangka berpikir yang dipakai dalam menulis karya ilmiah adalah berpikir i1miah, misalnya berpikir dedukatif dan induktif. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode ilmiah, yaitu metode logiko hipatiko, dan verifikatif.
5. Selain dari karya tulis ilmiah, juga terdapat karya tulis non-ilmiah, Untuk membedakan kedua jenis karya tulis ini dapat ditentukan dari berbagai titik pengamatan. Misalnya, permasalahan, bahasa, efek bagi pembaca, pola pengembangan tujuan, jenis, dan lain-lain.
Pertanyaan Latihan
Petunjuk
Pahamilah rangkaian pertanyaan berikut ini dengan baik, kemudian buatlah jawaban Saudara pada kertas bergaris sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh soal.
Pertanyaan
1. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan menulis dan menulis karya ilmiah.
2. Bandingkanlah antara, tulisan ilmiah dengan tulisan non-ilmiah. Berdasarkan perbandingan tersebut kemukakan komentar Saudara.
3. Apa-apa sajakah yang termasuk ke dalam jenis karya tulis ilmiah? Jelaskanlah jawaban Saudara tersebut.
4. Jelaskanlah peranan berpikir dalam menulis karya i1miah.
5. Bagaimanakah landasan, berpikir, makalah, skripsi, tesis, dan desertasi?
6. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan berpikir induktif dan berpikir deduktif. Berilah contoh uraian Saudara tersebut.
7. Uraikan dan jelaskanlah yang dimaksud dengan metode ilmiah!
8. Bagaimanakah peran karya tulis i1miah dalam menyangga ilmu pengetahuan alam?
9. Uraikan dan jelaskanlah bagian-bagian pokok yang ada dalam pengembangan suatu makalah.
Contoh-contoh bidang garapan PTK:
1) metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
2) strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;
3) prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
7) administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).
Bidang Kajian Penelitian
1. Masalah belajar siswa sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, dan sebagainya);
2. Desain dan strategi pembelajaran di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, dan sebagainya);
3. Alat bantu, media, dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, dan sebagainya);
4. Sistem evaluasi (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi, dan sebagainya);
5. Masalah kurikulum (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah implementasi KBK, interaksi guru-siswa, siswa-bahan abelajar, dan lingkungan pembelajaran, dan sebagainya.
A. Strategi penyampaian bahan ajar oleh Guru
1. Strategi urutan penyampaian simultan
Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu (Metode global). Misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila yang terdiri dari lima sila. Pertama-tama Guru menyajikan lima sila sekaligus secara garis besar, kemudian setiap sila disajikan secara mendalam.
2. Strategi urutan penyampaian suksesif
Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila. Pertama-tama guru menyajikan sila pertama yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah sila pertama disajikan secara mendalam, baru kemudian menyajikan sila berikutnya yaitu sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Strategi penyampaian fakta
Jika guru harus menyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar.
2. Berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi berpasangan, dsb. Bantuan penyampaian materi fakta secara bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk membantu menghafal. Sebagai contoh, untuk menghafal jenis-jenis sumber belajar digunakan cara berpikir: Apa, oleh siapa, dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa? Berdasar kerangka berpikir tersebut, jenis-jenis sumber belajar diklasifikasikan manjadi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Bantuan mengingat-ingat jenis-jenis sumber belajar tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics) menjadi POBATEL (Pesan, orang bahan, alat, teknik, lingkungan).
Bantuan menghafal berupa asosiasi berpasangan (pair association) misalnya untuk mengingat-ingat di mana letak stalakmit dan stalaktit pada pelajaran sains. Apakah stalaktit di atas atau di bawah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasangkan huruf T pada atas, dengan T pada tit-nya stalaktit. Jadi stalaktit terletak di atas, sedangkan stalakmit terletak di bawah.
Contoh lain penggunaan jembatan keledai atau jembatan ingatan: (1) PAO-HOA (Panas April-Oktober, Hujan Oktober – April). (2) Untuk menghafal nama-nama bulan yang berumur 30 hari digunakan AJUSENO (April, Juni, September, Nopember).
4. Strategi penyampaian konsep
Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb.
Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan kelima berikan tes
Contoh:
Penyajian konsep tindak pidana pencurian
Langkah 1: Penyajian konsep
Sesuai pasal 362 KUHP, "Barang siapa dengan sengaja mengambil barang milik orang lain dengan melawan hukum dengan maksud untuk dimiliki dihukum dengan hukuman penjara sekurang-kurangnya … tahun."
Langkah 2: Pemberian bantuan
1. Murid dibantu untuk menghafal konsep dengan kalimat sendiri, tidak harus hafal verbal terhadap konsep yang dipelajari (dalam hal ini Pasal pencurian).
2. Tunjukkan unsur-unsur pokok konsep tindak pidana pencurian, yaitu:
1. Mengambil barang (bernilai ekonomi)
2. Barang itu milik orang lain
3. Dengan melawan hukum (tanpa seijin yang empunya)
4. Dengan maksud dimiliki (mengambil uang untuk jajan).
Contoh positif: Wawan malam hari masuk pekarangan Ali dengan merusak pintu pagar (sengaja) mengambil (melawan hukum) material bangunan berupa besi beton (barang milik orang lain), kemudian dijual, uangnya untuk membeli beras (dengan maksud dimiliki). Contoh negatif/salah (bukan contoh tapi mirip): Badu meminjam sepeda Gani tidak dikembalikan melainkan dijual uangnya untuk membeli makan. Dari contoh negatif atau contoh yang salah ini, unsur-unsur "sengaja mengambil barang milik orang lain dengan maksud dimiliki" terpenuhi, tetapi ada satu unsur yang tidak terpenuhi, yaitu "melawan hukum", karena "meminjam". Jadi pengambilan barang seijin yang empunya. Karena itu perbuatan tersebut bukan termasuk tindak pidana pencurian, melainkan penggelapan.
Langkah 3: Latihan
Pertama-tama murid diminta menghafal dengan kalimat sendiri (hafal parafrase) Kemudian murid diminta memberikan contoh kasus pencurian lain selain yang dicontohkan oleh guru untuk mengetahui pemahaman murid terhadap materi tindak pidana pencurian.
Langkah 4: Umpan balik
Berikan umpan balik atau informasi apakah murid benar atau salah dalam memberikan contoh. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.
Langkah 5: Tes
Berikan tes untuk menilai apakah siswa benar-benar telah paham terhadap materi tindak pidana pencurian. Soal tes hendaknya berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyempaian konsep dan soal latihan untuk menghindari murid hanya hafal tetapi tidak paham.

Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip
Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb.
Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah :
3. Sajikan prinsip
4. Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip
5. Berikan soal-soal latihan
6. Berikan umpan balik
7. Berikan tes.

Contoh:
Cara mengajarkan rumus menghitung luas bujur sangkar dengan tujuan agar siswa mampu menerapkan rumus tersebut.
Langkah 1: Sajikan rumus
Rumus menghitung luas bujur sangkar adalah: Sisi X Sisi atau sisi kuadrat.
Langkah 2: Memberikan bantuan
Berikan bantuan cara menghafal rumus dilengkapi contoh penerapan rumus menghitung luas bujur sangkar. Misalnya sebuah karton bangun bujur sangkar dengan panjang sisi 30 cm.
Rumus: Luas bujur sangkar = S X S.
Luas karton adalah 30 X 30 X 1 cm2 = 900 cm2.
Langkah 3: Memberikan latihan
Berikan soal-soal latihan penerapan rumus dengan bilangan-bilangan yang berbeda dengan contoh yang telah diberikan. Misalnya selembar kertas panjangnya berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 40 cm. Hitunglah luasnya.
Langkah 4: Memberikan umpan balik
Beritahukan kepada siswa apakah jawaban mereka betul atau salah. Jika betul berikan penguatan atau konfirmasi. Misalnya, "Ya jawabanmu betul". Jika salah berikan koreksi atau pembetulan.

Langkah 5: Berikan tes
Berikan soal-soal tes secukupnya menggunakan bilangan yang berbeda dengan soal latihan untuk meyakinkan bahwa siswa bukan sekedar hafal soal tetapi betul-betul menguasai cara menghitung luas bujur sangkar.
5. Strategi penyampaian prosedur
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal.
Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah menyetel televisi.
Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
1. Menyajikan prosedur
2. Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur
3. Memberikan latihan (praktek)
4. Memberikan umpan balik
5. Memberikan tes.
Contoh:
Prosedur menelpon di telpon umum koin.
Langkah-langkah mengajarkan prosedur:
Langkah 1: Menyajikan prosedur
Sajikan langkah-langkah atau prosedur menelpon dengan menggunakan bagan arus (flow chart)
Langkah 2: Memberikan bantuan
Beri bantuan agar murid hafal, paham, dan dapat menelpon dengan jalan mendemonstrasikan cara menelpon.
Langkah 3: Pemberian latihan
Tugasi siswa paraktek berlatih cara menelpon.
Langkah 4: Pemberian umpan balik
Beritahukan apakah yang dilakukan siswa dalam praktek sudah betul atau salah. Beri konfirmasi jika betul, dan koreksi jika salah.
Langkah 5: Pemberian tes
Berikan tes dalam bentuk "do it test", artinya siswa disuruh praktek, lalu diamati.
6. Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian.
Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma.
Contoh:
Penciptaan kondisi. Agar memiliki sikap tertib dalam antrean, di depan loket dipasang jalur untuk antri berupa pagar besi yang hanya dapat dilalui seorang demi seorang secara bergiliran.
Pemodelan atau contoh: Disajikan contoh atau model seseorang baik nyata atau fiktif yang perilakunya diidolakan oleh siswa. Misalnya tokoh Bima dalam Mahabarata. Sifat Bima yang gagah berani dapat menjadi idola anak.
B. Strategi mempelajari bahan ajar oleh siswa
Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam mempelajari materi pembelajaran, kegiatan siswa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu menghafal, menggunakan, menemukan, dan memilih.
Penjelasan dan contoh disajikan sebagai berikut:
1. Menghafal (verbal & parafrase)
Ada dua jenis menghafal, yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945, definisi saham, dalil Archimides, dsb.
2. Menggunakan/mengaplikasikan (Use)
Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari.
Penggunaan fakta atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan. Contoh, berdasar hasil penggalian ditemukan fakta terdapatnya emas perhiasan yang sudah jadi, setengah jadi, perhiasan yang telah rusak, tungku, bahan emas batangan di bekas peninggalan sejarah di desa Wonoboyo Klaten Jawa Tengah. Dengan menggunakan fakta tersebut, ahli sejarah berkesimpulan bahwa lokasi tersebut tempat bekas pengrajin emas.
Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi, dalil, atau rumus. Seperti diketahui, dalil atau rumus merupakan hubungan antara beberapa konsep. Misalnya, dalam berdagang "Jika penjualan lebih besar daripada biaya modal maka akan terjadi laba atau untung". Konsep-konsep dalam jual beli tersebut meliputi penjualan, biaya modal, laba, untung, dan konsep "lebih besar".
Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggeneralisasi dan membedakan. Contoh, seorang anak yang telah memahami konsep "jam adalah alat penunjuk waktu", akan dapat menggeneralisir bahwa bagaimanapun berbeda-beda bentuk dan ukurannya, dapat menyimpulkan bahwa benda tersebut adalah jam.
Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Contoh, seorang siswa yang telah mampu menghitung luas persegi panjang setelah mempelajari rumusnya, dapat menentukan luas persegi panjang di manapun dan berapapun besarnya panjang dan lebar persegi panjang yang harus dihitung luasnya.
Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan atau dipraktekkan. Seorang siswa yang telah hafal dan berlatih mengendarai sepeda motor, dapat mengendarai sepeda motor tersebut.
Penggunaan prosedur (psikomotorik) adalah untuk mengerjakan tugas atau melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh, siswa dapat mengendarai sepeda motor setelah menghafal langkah-langkah atau prosedur mengendarai sepeda motor.
Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari. Misalnya, siswa berhemat air dalam mandi dan mencuci setelah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya bersikap hemat.
3. Menemukan
Yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalah menemukan cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari.
Menemukan merupakan hasil tingkat belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari hukum bejana berhubungan seorang siswa dapat membuat peralatan penyiram pot gantung menggunakan pipa-pipa paralon. Contoh lain, setelah mempelajari sifat-sifat angin yang mampu memutar baling-baling siswa dapat membuat protipe, model, atau maket sumur kincir angin untuk mendapatkan air tanah.
4. Memilih
Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang dimaksudkan dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Misalnya memilih membaca novel dari pada membaca tulisan ilmiah. Memilih menaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat masuk sekolah atau memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dsb.





FALAH Y: MODEL MODEL DALAM PEMBELAJARAN
MODEL-MODEL DALAM PENGAJARAN
UNTUK MEMBUAT PELAJAR BELAJAR MANDIRI
A. Pendahuluan
Sudah 14 tahun saya menjadi guru SMK Negeri Y Samarinda, sebuah sekolah kejuruan yang banyak diminati, disegani, difavoriti warga Samarinda. Selain itu sebagai sekolah kejuruan yang dianggap senior maka sekolah ini juga merupakan rujukan bagi sekolah kejuruan swasta yang serumpun bidang keahlian nya di Samarinda dan sekitarnya. Kepala sekolah, guru-guru dari luar sering berkonsultasi ke sekolah ini hanya untuk mengembangkan sekolahnya dan menyamakan persepsi dalam pendidikan dan pengajaran.
Sebagai sekolah kejuruan, sekolah ini tergolong telah mampu mengeluarkan lulusan yang banyak di serap di dunia kerja maupun kuliah di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Secara persisnya data ini belum terkaver mengingat sekolah ini tidak memiliki data tentang keadaan lulusan untuk lima tahun terakhir ini. Namun sebagai guru di sini, penulis sering bertemu para alumni ini bekerja di berbagai instansi, perusahaan, dan kantor-kantor juga sering menemui para siswa yang kuliah di Unmul maupun perguruan tinggi swasta lainnya, serta beberapa alumni yang berwiraswasta.
Dalam soal belajar mengajar saya tidak menemukan hal yang istimewa, sekolah ini tetap menggunakan kegiatan belajar mengajar model Ceramah/kuliah. Selanjutnya diskusi kelompok, latihan (praktikum), dan terakhir penugasan oleh guru. Jika siswa mempunyai prestasi baik dalam belajar itu disebabkan dasarnya memang sudah baik, misalnya NEM yang digunakan syarat untuk masuk ke sekolah ini rata-rata baik, selain itu mereka punya kemauan dan motivasi untuk belajar. Di sini guru dalam mengajar tidak terlalu repot, tidak terbeban, tidak merasa kesulitan, walau dengan persiapan seadanya dan dengan metode yang paling sederhana sekalipun.

Di sekolah ini dalam pembagian kelas telah dikelompokkan atas rangking prestasi belajar, pada siswa yang prestasi belajarnya baik maka dikelompokkan pada kelas unggulan, rangking berikutnya di kelompok kelas berikutnya dan seterusnya.
Kelas unggulan merupakan siswa yang mampu mandiri dalam belajar daripada kelas yang lain di bawahnya, hal ini disebabkan kesadaran siswa yang tinggi disertai motivasi belajar yang tinggi serta karena kemampuan mereka yang baik disertai dengan mereka yang dikumpulkan dengan teman-teman yang baik sehingga punya daya saing yang hebat. Namun secara umum para siswa belum mampu mandiri dalam belajar mereka masih bergantung pada guru untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Dengan mengingat rasa keadilan dalam memberikan pelayanan pada siswa serta berdasar pada salah satu kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM dengan konsep menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan, maka tulisan ini difokuskan untuk membantu guru-guru dalam membenahi pengajaran agar membuat siswa menjadi mandiri dalam belajar.





B. Hasil Pengamatan
Dalam pengamatan penulis pola umum mengajar guru-guru di SMK Negeri Y Samarinda adalah : 1) Ceramah; 2) Diskusi kelompok; 3) penugasan, 4) latihan (demonstrasi).
1. Metode Ceramah
Pengajaran menggunakan metode ceramah telah mendominasi dalam kegiatan pengajaran di SMK Negeri Y Samarinda. Metode ceramah /kuliah/penuturan merupakan metode mengajar yang konvensional, karena metode ini sudah sejak dulu digunakan sebagai alat komunikasi pengajaran antara guru dengan siswa. Meskipun metode ini banyak menuntut keaktifan guru daripada siswa, namun metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pengajaran. Apalagi pada sekolah-sekolah yang fasilitasnya kurang dan sekolah-sekolah di daerah terpencil (pedalaman).
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (1996:109-110), "Metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Kelebihan metode ceramah
- Guru mudah menguasai kelas.
- Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
- Dapat diikuti oleh jumlah siswa besar.
- Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
- Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
a. Kelemahan metode ceramah
- Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)
- Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya.
- Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
- Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali.
- Menyebabkan siswa menjadi pasif.
Dalam praktiknya, guru dalam mengajar tidak bisa hanya menggunakan metode ceramah saja, tapi dikombinasikan dengan metode-metode mengajar lainnya. Misalnya metode ceramah biasanya dikombinasikan dengan tanya jawab dan penugasan, sedang untuk metode latihan dikombinasi dengan ceramah dan demonstrasi.
2. Metode Latihan
Metode latihan digunakan di SMK Negeri Y Samarinda terutama untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan ketrampilan (skill) seperti pelajaran akuntansi, komputer, stenografi, penjualan barang, korespondensi, mengetik dan sebagainya. Untuk pelajaran Matematika, Bahasa Inggris sering pula menggunakan metode ini. Metode latihan atau disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan. Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini.


Syaiful Bahri Djamarah (1996:108-109), merinci kelebihan dan kelemahan metode latihan sebagai berikut:
Kelebihan metode latihan
a. Untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat - alat, menggunakan alat-alat (mesin permanen dan elektrik), dan terampil menggunakan peralatan olah raga.
b. Untuk memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian, menjumlah, pengurangan, pembagian, tanda -tanda (simbol), dan sebagainya.
c. Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta dan sebagainya.
d. Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
e. Pemanfaatan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
f. Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, menjadi lebih otomatis.
b. Kelemahan metode latihan
a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah membosankan.
d. Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis.
e. Dapat menimbulkan verbalisme.
Dalam praktiknya, metode latihan tidak bisa berdiri sendiri namun divariasikan dengan metode ceramah, sebagaimana dijelaskan Syaiful Bahri Djamarah :
"Metode latihan umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Karena itu, metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang akan dilakukannya."
3. Metode Diskusi
Metode diskusi digunakan oleh guru SMK Negeri Y Samarinda, umumnya oleh guru mata pelajaran Sejarah, PPKn, Agama dan Etika, serta guru Bahasa Indonesia untuk materi praktik diskusi, dan guru kesekretarisan untuk materi praktik pertemuan dan rapat (meeting).
Metode diskusi bermanfat untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara verbal, dan memupuk sikap demokratis. Diskusi dilakukan bertolak dari adanya masalah. Menurut Winarno Surachmad dalam Muhammad Ali (2000:80-81), pertanyaan yang layak didiskusikan mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Menarik minat siswa yang sesuai dengan tarafnya
2. Mempunyai kemungkinan jawaban yang lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya
3. Pada umumnya tidak menyatakan mana jawaban yang benar, tetapi lebih Banyak mengutamakan hal
mempertimbangkan dan membandingkan.

Metode diskusi mempunyai kadar CBSA cukup tinggi. Namun demikian, diskusi dapat berjalan dengan baik dan efektif bila siswa sudah mampu berfikir dan menggunakan penalaran.
Pelaksanaan sebuah diskusi dapat dipimpin oleh guru yang bersangkutan, atau dapat pula meminta salah seorang siswa untuk memimpinnya. Pemimpin diskusi dikenal dengan nama moderator biasanya secara formal moderator dibantu oleh sekretaris, untuk mencatat pokok-pokok fikiran penting yang dikemukakan peserta diskusi.
Sayangnya karena kurikulum di SMK Negeri Y Samarinda yang padat, dan guru harus menghabiskan materi sesuai program pengajaran maka beberapa guru tidak mau menjalankan, alasan repot, makan waktu dan memerlukan kerja keras untuk memperhatikan tiap-tiap kelompok diskusi. Biasanya guru hanya membagi kelompok pelajar untuk berdiskusi tentang suatu topik, tanpa ada bimbingan, sehingga masing-masing kelompok berdiskusi, hasil diskusi ditulis di kertas, hasilnya dikumpulkan.

4. Penugasan
Penugasan kepada siswa sering dilakukan oleh guru SMK Negeri Y Samarinda. Tugas-tugas tersebut diantaranya adalah mengisi LKS (Lembar Kegiatan Siswa), PR (Pekerjaan Rumah), membuat klippping, membuat makalah/karya tulis, mengadakan studi banding.
Tugas ini sebenarnya baik bagi perkembangan siswa dalam belajar, namun guru kurang mengadakan bimbingan sehingga seolah-olah, siswa hanya mengerjakan kewajiban saja, tanpa tahu apa maknanya tugas tersebut. Misalnya dalam membuat kliping siswa hanya menggunting lalu menempel dan menjilid, tidak tahu apa maksud isi yang diklipping tersebut. Misalnya siswa membuat makalah, tanpa pernah dipresentasikan di depan guru/kelas. Misalnya siswa telah mengerjakan LKS lalu dikumpulkan kepada guru tanpa ada koreksi atau pembahasan.
Rupanya ada keengganan bagi guru untuk mengoreksi, untuk menindak lanjuti tugas-tugas yang ia berikan kepada siswa, dan ini bisa berdampak pada siswa yaitu siswa menjadi kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas atau siswa mengerjakan tugas sekedarnya saja (yang penting telah mengerjakan).
C. Permasalahan
Beberapa pola umum mengajar guru-guru SMK Negeri Y Samarinda yang telah diuraikan di atas dengan kelebihan dan kekurangannya masih menimbulkan ganjalan dalam peningkatan mutu pendidikan dan masih menyisakan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Guru belum mampu membuat pelajar menjadi Learner autonomy
2. Guru belum menerapkan konsep belajar tuntas sebagai perwujudan dari learner autonomy
3. Guru belum menggunakan perpustakaan sebagai sarana bagi terlaksananya learner autonomy
4. Guru belum menggunakan metode mengajar yang mengarah pada learner autonomy

D. Analisis Masalah dan Pemecahannya
Pembelajar mandiri (learner autonomy) adalah suatu masalah yang eksplisit atau perhatian yang serius atau sadar: kita tidak dapat menerima tanggung jawab pembelajaran kita meskipun kita mempunyai ide apa, bagaimana, kenapa kita berusaha untuk belajar. Pembelajar harus berinisiatif untuk memberi bentuk arahan untuk proses belajar dan harus berbagi dalam kemajuan dan evaluasi untuk mengembangkan sasaran pembelajar yang dicapai (David Little)

Otonomi secara semantik berarti kompleks, Pembelajar mandiri harus menginterpretasikan kebebasan dari kontrol guru, kebebasan dari tekanan kurikulum bahkan kebebasan untuk memilih tidak belajar. Masing-masing kebebasan ini harus dihadapkan dan didiskusikan secara bijaksana, tetapi untuk kita yang terpenting adalah kebebasan belajar yang tersirat di dalam diri sendiri. Yang berarti kapasitas tersebut dibatasi dengan tujuan yang ingin dicapai.
Pembelajar mandiri secara umum adalah salah satu hasil perkembangan dan eksperimen belajar, sebagai contoh penguasaan bahasa Ibu berhasil hanya bila dikembangkan oleh murid sebagai pengguna bahasa tersebut, sebagai bahasa Ibu. Sama dengan belajar melalui pengalaman membantu mendefinisikan apa itu pelayanan masyarakat dalam memperkembangkan kapasitasnya sebagai tingkah laku pembelajar mandiri. Kebanyakan guru tergantung latihan-latihan pembelajar dalam jangkauan yang lebar dari kelakuan pembelajar di luar kelas yang tergambar dalam prinsip semua pembelajar seharusnya mampu di dalam kelas.
Beberapa kritik diajukan terhadap pembelajar mandiri ini dengan ide-ide yang bermacam-macam, seperti bagian dari tradisi budaya barat atau pembelajar bukan barat/aneh. (Jones, 1995). Argumen ini dibantah bahwa metode ini digunakan untuk mengembangkan pengetahuan pembelajar mandiri sebagai tradisi pengajaran barat contoh budaya pendidikan Denmark, Inggris dan Irlandia. Perkembangan Pembelajar mandiri di Jepang dielaborasikan secara spesifik dengan tradisi budaya Jepang baik di dalam maupun di luar kelas, diharapkan pengalaman terhadap tantangan dan pengayaan belajar adalah didapatkan rasa percaya diri untuk dibawa pulang dengan pengertian yang besar mengenai teori dan implikasi praktik pendidikan.
Belajar mandiri membuat para pelajar terbebas dari kelas reguler, membuat belajar sesuai dengan kemampuan pelajar, dan dapat melayani diri sendiri dalam hal kebutuhan belajarnya. Untuk itu perlu diupayakan agar belajar mandiri ini dapat berkembang dengan mendorong para pelajar untuk belajar dengan tekun yang datang dari keinginannya sendiri. Dengan demikian akan diperoleh generasi yang proaktif, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan kritis. Dengan pembelajar mandiri maka akan tercipta generasi bisa bertoleransi, bisa berdemokrasi, dan berbudi pekerti, serta menghargai hak-hak orang lain. Maka untuk selanjutnya kita tidak lagi menyebut siswa, student atau pupil tapi learner atau pelajar bagi anak didik kita.
Permasalahan pertama, Guru belum mampu membuat pelajar menjadi Learner autonomy atau pelajar menjadi mandiri dalam belajar ini disebabkan oleh adanya pengkotak-kotakan siswa dalam kelas unggulan, dan bukan unggulan. Pada kelas unggulan yang berisi siswa dengan prestasi diatas rata-rata telah terjadi persaingan yang ketat antar mereka, pada kelas ini guru senang dan bersemangat dalam mengajar karena siswa mudah mengerti dan mudah di atur. Motivasi siswa untuk belajar dan berhasil dalam belajar tinggi, sehingga mereka mampu mandiri mamapu menjadi pelajar yang mandiri. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan mereka dalam mengambil inisiatif jika terjadi kekosongan guru/jam kosong, mereka mulai belajar sendiri melalui kunjungan ke perpustakaan, membaca buku pelajaran sendiri, atau membuat kelompok-kelompok diskusi. Lain halnya pada kelas yang dibawah unggulan mereka kurang termotivasi belajar, semakin kebawah kelasnya semakin tidak semangat untuk belajar. Pada kelas ini mereka merasa sebagai kelas afkiran, mereka kelas kedua dan bukan kelas utama, mereka anak-anak yang bodoh yang bermasalah.
Falah Yunus (1999), dalam penelitiannya tentang hubungan motivasi dengan prestasi belajar di SMK Negeri Y Samarinda ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1 1. Korelasi motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa (r=0,62)
2 2. Interpretasi r= 0,62 yaitu : tingkat hubungan adalah "kuat"
3 3. Sumbangan relatif motivasi terhadap prestasi belajar (r2=0,39 atau 39%), sedang sisanya 61% dipengaruhi oleh
faktor lain.
4.
Pada angket motivasi dibagi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, ternyata motivasi intrinsik lebih dominan daripada motivasi ekstrinsik, dengan perbandingan 6:4.
5. Di SMK Negeri Y ada kelas unggulan dan kelas biasa, ternyata kelas unggulan motivasinya lebih tinggi daripada kelas biasa. Dari pernyataan ke 5 simpulan penelitian tersebut, maka seyogyanya agar pelajar dapat mandiri, sekolah jangan membuat kelas unggulan. Jika mau membuat kelas unggulan buat saja sekolah unggulan tersendiri. Untuk itu sebaiknya kelas di campur saja sehingga dalam satu kelas terdapat siswa pandai, sedang dan kurang yang mereka akan berinteraksi dan saling menyadari akan kekurangan dan kelebihan, dan terjaminlah rasa keadilan.
Permasalahan ke dua, Guru belum menerapkan konsep belajar tuntas di SMK Negeri 1 Samarinda sebagai perwujudan dari learner autonomy. Dalam Garis-garis besar Program pendidikan dan Pelatihan (GBPP) Kurikulum SMK, menganut prinsip sebagai berikut :
1. Berbasis luas, kuat dan mendasar (Broad Based Curriculum/BBC)
2. Berbasis kompetensi (Competenci Based Curriculum)
Pengertian Broad Based Curriculum adalah pola penyajian kurikulum yang terstruktur mulai dari kemampuan dasar, kemampuan lanjutan, sampai kemampuan spesialisasi/keahlian 3 aspek dalam pengembangan BBC pertama, pendidikan harus selebar mungkin cakupannya, agar tamatan yang akan bekerja akan dapat menemukan tempat pada lapangan kerja lainnya yang berdekatan dengan kualifiaksi bidang kejuruannya. Kedua pendidikan harus sedalam mungkin agar tamatan yang akan bekerja memiliki kualifikasi yang memadai untuk pekerjaan yang menuntut spesialisai.
Pengertian Pendekatan Competency/kemampuan adalah seperangkat tindakan inteligensi dan penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai prasyarat melaksanakan bidang pekerjaan tertentu

Sehubungan dengan hal tersebut di SMK ada istilah remedial dan pengayaan, maksudnya siswa diharapkan untuk menuntaskan pelajaran sebelum ia mempelajari pelajaran berikutnya atau dalam istilah SMK siswa harus menuntaskan kompetensi pertama sebelum mempelajari kompetensi kedua. Jika siswa belum ternyata belum tuntas maka guru perlu memberikan pengayaan dan remedial. Ini sebenarnya sebuah langkah bahwa siswa harus belajar dan belajar secara kontinyu. Ini adalah mengarah pada siswa menjadi pembelajar mandiri.
Bagaimana guru dapat membuat siswa menjadi pembelajar mandiri dalam menuntaskan pembelajaran ketika dilaksanakan remedial atau pengayaan. Hal ini bisa dilakukan bermacam-macam cara, misalnya guru memberikan tugas kepada pelajar untuk membuat makalah, guru membuat modul yang harus dipelajari pelajar di rumah dan sebagainya.
Pengajaran remedial (remedial teaching ) adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat perbaikan, atau pengajaran yang membuat menjadi baik.
Dalam belajar mengajar guru melakukan pengajaran dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara optimal. Namun jika ternyata terdapat siswa yang lamban dalam belajar dan prestasi belajarnya rendah maka diperlukan suatu proses belajar mengajar yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan (Moh Uzer Usman,2000).
Pengayaan adalah kegiatan tambahan yang diberikan kepada siswa yang telah mencapai ketentuan dalam belajar yang dimaksudkan untuk menambah wawasan atau memperluas pengetahuannya dalam materi pelajarn yang telah dipelajarinya (Moh Uzer Usman, 2000).
Permasalahan ke tiga, guru belum menggunakan perpustakaan sebagai sarana bagi terlaksananya learner autonomy. Perpustakaan merupakan pusat dan sumber belajar bagi pelajar dan ciri-ciri khas dari seorang pembelajar mandiri adalah kegemarannya dalam membaca. Jika guru mampu menggunakan perpustakaan semaksimal mungkin sebagai sumber belajar siswa, maka tujuan menjadikan siswa suka belajar akan tercapai.
Guru tidak bisa memberikan semua dan seluas-luasnya lmu kepada siswa, mengingat cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu perpustakaan di sekolah harus diberdayakan. Proses belajar mengajar harus melibatkan perpustakaan sekolah. Disamping itu siswa juga diberdayakan untuk menggunakan jaringan komputer (Internet) sebagai sumber pustaka Audio Visual Aids (AVA). Banyak informasi yang bisa diakses dari Internet untuk mengembangkan pengetahun siswa seperti jurnal ilmiah, berita, dan informasi lainnya yang membantu penambahan ilmu pengetahuan siswa.
Menurut SWA-Markplus, dari lima kota (daerah) yang mereka survey yaitu Jabotabek, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Medan akses internet dari perguruan tinggi dan sekolah terbilang kecil rata-rata 6,7%. Bandingkan dengan akses dari warnet yang menunjukkan angka 45,8% atau dari rumah 19%.
Rupanya internet di kampus dan sekolah belum menjadi kebutuhan. Masih banyak kepala sekolah yang menganggap internet belum jelas manfaatnya di sekolah. Karena itulah mereka tak melengkapi sekolahnya dengan internet. Alasan lain karena faktor dana dan tidak tersedianya sumber daya yang paham internet. Demikian diungkapkan Amir Faisal, staf Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dimenjur) yang sering berkunjung ke sekolah-sekolah di Indonesia untuk melatih penggunaan internet. Dari 700 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Indonesia, baru 300 sekolah yang membuka Internet, "tuturnya (Republika,17/10/2000).
Permasalahan keempat, guru belum menggunakan metode mengajar yang mengarah pada learner autonomy. Perlu bagi guru untuk mengembangkan metode mengajarnya ke arah pelajar menjadi mandiri. Belajar Kelompok atau Diskusi kelompok yang diungkapkan di atas jika di kelola dengan serius oleh guru akan mengantarkan pelajar menjadi pembelajar mandiri.
Belajar Kelompok (Cooperative learning) adalah sebuah strategi pengajaran yang sukses di dalam tim kecil, penggunaan sebuah variasi dari aktivitas belajar untuk memperbaiki pemahaman subyek. Setiap anggota tim tidak hanya bertanggung jawab pada belajar yang telah diajarkan tapi juga membantu kawan belajar se-tim, jadi membuat sebuah kondisi berprestasi (Stephen Balkcom).

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Muslimin Ibrahin (2000) adalah :
1.Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
3.Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
4.Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperative :
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa



Fase 2
Menyajikan informasi


Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam ke –
lompok-kelompok belajar


Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase 5
Evaluasi


Fase 6
Memberikan penghargaan

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar


Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demostrasi atau lewat bahan bacaan


Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu agar setiap kelompok melakukan transisi secara fisien

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok


Belajar kelompok yang terdiri 4-6 anak per kelompok sangat bagus bagi perkembangan kepribadian anak dan perkembangan sosialisasi. Pada belajar ini siswa dapat saling berinteraksi sehingga akan timbul rasa persaudaraan, siswa belajar untuk mengeluarkan pendapat, ide. Siswa akan bangga terhadap penguasaan topik tertentu dan akan memberikan presentasi kepada teman-temannya, bahkan dalam salah satu strategi belajar kelompok siswa dapat memperoleh julukan ahli misalnya ahli empedu, ahli jantung dan sebagainya dalam belajar kelompok.
Linda luendgren (1994 dan Nur dkk, 1997) yang dikutip oleh Muslimin Ibrahim dkk, memberikan beberapa hasil penelitian yang menunjukan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil yang rendah antara lain :
• Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
• Rasa harga diri lebih tinggi
• Memperbaiki sikap terhadap IPA dan segala
• Memperbaiki kehadiran
• Angka putus sekolah menjadi lebih rendah
• Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
• Perilaku menggangu menjadi lebih kecil
• Konflik antar pribadi berkurang
• Sikap apatis berkurang
• Pemahaman yang lebih mendalam
• Motivasi lebih besar
• Hasil belajar lebih tinggi
• Retensi lebih lama
• Meningkatakan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

Berdasarkan teknik pelaksanaan , diskusi kelompok dapat digolongkan dua macam, yang jika dilaksanakan akan mengarahkan siswa untuk menjadi pembelajar mandiri, yaitu :
1. Debate. Di dalam debate terdapat dua kelompok mempertahankan pendapatnya masing-masing yang bertentangan. Pendengar (Audience) dijadikan sebagai kelompok yang memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam keputusan akhir. Agar debate tidak bekrpanjangan harus dibatasi sesuai dengan waktu yang tersedia.
2. Diskusi. Diskusi pada dasarnya merupakan musyawarah untuk mencari titik temu pendapat tentang sesuatu masalah. Ditinjau dari pelaksanaannya dapat digolongkan ke dalam :
1. Diskusi kelas. Diskusi kelas adalah semacam 'brain storming' (pertukaran pendapat). Dalam hal ini guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Jawaban dari siswa diajukan lagi kepada siswa lain atau dapat pula meminta pendapat siswa lain tentang hal itu. Sehingga terjadi pertukaran pendapat secara serius dan wajar.

1. Diskusi kelompok. Guru mengemukakan suatu masalah. Masalah dipecah ke dalam sub masalah. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil mendiskusikan sub-sub masalah tersebut. Hasil diskusi kelompok dilaporkan di depan kelas dan ditanggapi. Kesimpulan akhir adalah kesimpulan hasil laporan kelompok yang sudah ditanggapi seluruh isiwa.

1. Panel. Panel merupakan diskusi yang dilakukan oleh beberapa orang saja. Bisanya antara 3 sampai dengan 7 orang panelis. Siswa lain hanya bertindak sebagai pendengar (Audience). Dengan diskusi yang dilakukan oleh panelis tadi, audiens dapat memahami maksud yang terkandung pada masalah yang didiskusikan; merangsang berfikir untuk mendiskusikan lebih lanjut. Oleh karena itu panel dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli memahami seluk beluk masalah yang didiskusikan. Panel tidak bertujuan memproleh kesimpulan, tapi merangsang berfikir agar siswa mendiskusikan lebih lanjut.

1. Konferensi. Dalam konferensi anggota duduk saling menghadap, mendiskusikan sesuatu masalah. Setiap peserta/siswa harus memahami bahwa kehadirannya harus sudah mempersiapkan pendapat yang akan diajukan.

1. Symposium. Pelaksanaan symposium dapat menempuh dua cara. Cara pertama, mengundang dua orang pembicara atau lebih. Setiap pembicara dimintakan untuk menyajikan prasaran yang sudah ditulis. Masalah yang dibahas oleh setiap pembicara adalah sama. Namun masing-masing menyoroti dari sudut pandangan yang berbeda-beda. Cara ke dua, membagi masalah ke dalam beberapa aspek. Setiap aspek di bahas oleh seorang pemrasaran, Selanjutnya disiapkan penyanggah umum yang akan menyoroti pemrasaran tersebut. Setelah selesai penyanggah umum memberikan sanggahan, baru diberikan kesempatan memberikan jawaban sanggahan.

1. Seminar. Seminar merupakan pembahasan ilmiah yang dilaksankan dalam meletakkan dasar-dasr pembinaan tentang masalah yang dibahas. Pembahasan seminar bertolak dari kertas kerja yang disusun oleh pemrasaran, dan maksud yang terkandung dalam pokok seminar (tema). Pelaksanaanya seringkali diawali dengan pandangan umum atau pengarahan dari fihak tertentu yang berkepentingan.

Peranan guru sebagai pemimpin diskusi pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. Pengatur jalannya diskusi, yakni :
a. Menunjukkan pertanyaan kepada seorang siswa
b. Menjaga ketertiban pembicaraan
c. Memberi rangsangan kepada siswa untuk berpendapat
d. Memperjelas suatu pendapat yang dikemukakan
2. Sebagai dinding penangkis, yakni menerima dan menyebarkan pertanyaan
/pendapat kepada seluruh peserta
3. Sebagai penunjuk jalan, yakni memberikan pengarahan tentang tatacara
diskusi (muhamad Ali,1990:80)

Dalam pengajaran bahasa, terutama bahasa Inggris penggunaan belajar kelompok seperti diskusi kelompok dan seminar akan sangat menarik, dan mampu membuat siswa menjadi mahir dalam berbahasa Inggris, sebab siswa dengan metode ini mau tidak mau dipaksa untuk menggunakan bahasa Inggris dalam melakukan pembicaraan, menyanggah, berdebat dan berargumentasi.
Di SMK Negeri Y Samarinda, berhubung ada pelaksanaan Praktik Industri (On the Job Training) dimana siswa harus meninggalkan sekolah selama 3 (tiga) bulan untuk latihan kerja di dunia usaha/perusahaan maka akan mengakibatkan jam belajar siswa berkurang. Untuk itu perlu bagi sekolah untuk mampu membuat siswa menjadi pembelajar mandiri di rumah dengan cara belajar menggunakan Modul.

Menurut James D. Ruseel (1973) dalam Muhammad Ali, modul yaitu merupakan suatu paket belajar mengajar berkenaan dengan satu unit bahan pelajaran. Dengan modul siswa dapat mencapai taraf mastery (tuntas) dengan belajar secara individual. Siswa tidak dapat melanjutkan ke suatu unit pelajaran berikutnya sebelum mencapai taraf tuntas. Biasanya modul menggunakan multi media. Dengan melalui modul siswa dapat mengontrol kemampuan dan intesitas belajarnya, modul dapat dipelajari dimana saja. Lama sebuah modul tidak tertentu. Dapat beberapa menit, dapat bebetapa jam, dapat dilakukan secara tersendiri atau dibuat variasi dengan metoda lain.

Jika dilihat dari segi interaksi belajar mengajar yang berorientasi pada siswa sebagai subyek maka, modul itu dapat membuat:
1. Anak didik akan lebih aktif dalam belajar karena yang bersangkutan dituntut aktif berpartisipasi dalam setiap penyelesaian modul sesuai kemampuan anak dan guru hanya sebagai pembimbing, yang berusaha mengatur kelas sedemikian rupa sehingga anak belajar dengan baik.

1. Anak belajar sesuai dengan pertumbuhan masing-masing. Anak yang cepat akan dapat menyelsaikan modul lebih dahulu, tetapi ada pula anak yang lambat dalam penyelesaian modulnya.

E. Simpulan dan Saran

Dari uraian di atas dapat di buat simpulan dan saran sebagai berikut :
1. SMK Negeri Y Samarinda dalam proses belajar mengajar belum memberdayakan pelajar menjadi Learner Autonomy, padahal ini perlu digalakkan dalam kerangka menjebatani salah satu kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM dengan konsep menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan
2. SMK Negeri Y Samarinda perlu memberdayakan siswa menjadi leraner outonomy dengan menghapus kelas unggulan, memberdayakan perpustakaan dan jaringan komputer (internet), pelaksanaan belajar tuntas dengan mengadakan remedial dan pengayaan, metode belajar kelompok terutama diskusi kelompok dan seminar dan pengajaran modul
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Internet Belum Dianggap Penting Di SMK, berita dalam harian Republika, 17/10/00
Ali, Muhammad, 2000, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung
Astati, Sutriati, 1999, Pendukung Pelaksanaan Buku II Kurikulum SMK Edisi 1999, PPPGK Sawangan, Depdikbud
Balkcom, Stephen, Cooperative Learning, diakses dari http://www.ed. gov/pubs/ OR/Consumen Guides/Index.html diakses 2 Mei 2002
arah, Syaiful Bakri, 1996, Starategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000, Pembelajaran Cooperative, Program Pascasarjana Unesa, University Press, Surabaya

Little, David, Learner Autonomy : What and Why ?, The Language Teacher Online 22.10, diakses dari http://longue.hyoer.chubu.ac.jp/jalt/pub/t;t /98/nov/littledam.html diakses 2 Mei 2002
Usman, Moh. Uzer, 2000. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung
Yusuf, A. Muri, 1982, Pengantar Ilmu Pendidikan, Ghalia Indonesia, Jakarta
Sumber: Blog sukarni dhm

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by http://4-jie.blogspot.com/ | Bloggerized by Fajri Alhadi